20 Dec 2016

KATA KATA

I found my old writing, back 2 years ago.








KATA KATA.
by: Annisa Jihan, 19 Oct 2014






Malam ini, dalam dingin AC di ruangan yang sangat tidak bersahabat, aku menyalakan semua lampu di penjuru rumah. Takut akan gelap, atau takut akan yang namanya sepi yang selalu coba menghampiri? Aku hanya ingin satu dua buah kata. tak perlu yang bermakna cinta. aku hanya perlu sebuah sikap yang hangat. Dimana kehangatan?! Dimana ia belakangan? akankah ia marah pada matahari yang sudah terlalu lama berbagi? Dimana hujan saat ini? Mungkin saja hangat hanya bersahabat pada hujan yang tetap menjadikannya berarti. Apa arti hangat apabila semua orang begitu mencintai sinar matahari? Hangat bias jadi marah dan pergi tidak kembali..


Malam ini, selimut tebal cukup menjadi teman satu-satunya yang paling setia. Disela segala keraguan yang diam-diam menyelinap dalam tiap mimpi buruk, selimut cukuplah setia memberikan perlindungan sehangat peluk.
Tidak perlu kita bicara rasa. Apa arti cinta jika dibiarkan sunyi? Bukankah cinta sepatutnya bicara dengan penuh gema? Lantas mengapa cinta membawa kesedihan? Pasti ada yang salah, malam ini. Apa yang salah? siapa yang salah? bagaimana bisa salah? seandainya merindu tidak perlu menggebu-gebu, mungkin saja kita bisa bicara tanpa kata-kata.


Aku hanya begitu merindukanmu.
aku ingin mendengar suaramu yang tidak lelah. kenapa kau cepat lelah dan menjadi jengah? dimana semua hal-hal yang indah? apakah cinta tak cukup membawa burung-burung kembali pulang ke sarang? lalu dimana aku sekarang? Saat ini aku ingin sekali pergi, beribuan kilometer jauhnya. dan menhgilang sejenak dalam kabut dingin yang suka memupuskan asa. di beberapa sisi baying-baying lampu pijar, aku ingin menjadi orang jahat saja karena menjadi baik membuatmu begitu lemah.


Kau bilang butuh spasi. aku duga kau butuh jarak. kata-katamu terlalu tajam bahkan untuk kuingat. tapi sepanjang perjalanan malam yang begitu meresahkan, kata-katamu bergema seakan ada benarnya. haruskan aku bersembunyi di sudut lain galaksi ini? akankah duniamu menjadi luas kembali? mungkin kamu butuh hijrah, mungkin kita semua butuh pergi sejenak.


Kau bilang butuh spasi.
kau bilang butuh spasi.
spasi.
jeda.
waktu.
jarak.
detak.
tempat.
koordinat.


mengapa lantas banyak sekali koordinat di dalam kepala? akankan kamu menetap dan tidak mengizinkanku mengetuk untuk masuk? Kata-katamu yang bergema tidak bisa lagi aku cerna. mungkin aku butuh istirahat lebih lama dari biasanya.


kau butuh spasi, aku berikan alam semesta.
terserah saja kau ingin tinggal dimana, aku pastikan tidak ada diriku disana.
untuk waktu yang tidak menentu...


kelak kau tahu aku butuh pengganti selimut, alangkah baiknya jika selimut ini bisa bicara agar aku tahu, aku tidak gila... tapi kamu butuh spasi?


spasi.. spasi,,, sanpai basi kata-kata itu menusuk di hati.

27 May 2016

Apa tujuan hidup kita?

Assalammualaikum. 

Dan tidaklah kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada- Ku.” (QS. Adz- Dzariyat : 56) 

Banyak sekali dari kita yang kerap mempertanyakan tujuan hidup. Mau apa kita? Mau kemana kita? Pertanyaan semacam ini tidak luput juga saya lontarkan beberapa tahun silam. Bagi saya, tujuan hidup itu harus terpampang. Dengan jelas: A, B, C, D. Tapi saya lupa, saya lupa memasukkan 1 poin yang mana adalah tujuan sejatinya makhluk hidup diciptakan. Ibadah. Menyembah. Saya lupa menjadikan ibadah adalah tujuan hidup saya. 

Siapa yang tidak percaya bahwa dunia ini tidaklah kekal adalah disbeliever. Tidak beriman. Karena beriman termasuk meyakini hari akhir and the life after. Kemana kita semua pergi setelahnya? Tergantung masing-masing amal, mereka bilang. Seringkali pernyataan ini menjadi dalil mereka yang suka mengatakan "yang penting gw baik, ga ganggu orang, urusan gue". Nope. Baik belum tentu masuk surga. Lalu bagaimana cara kita meraih surga? 

Dalam suatu pengajian di kantor beberapa bulan lalu, ustdzah astrie ivo mengatakan "hanya ada 1 jalan menuju surga, yakni taqwa". Saat mendengar itu hati saya bergetar. Wajah serasa ditampar. Bagaimana itu tAqwa? 

Menurut risalahislam.com, 
Ibn Abbas mendefinisikan takwa sebagai "takut berbuat syirik kepada Allah dan selalu mengerjakan ketaatan kepada-Nya" (Tafsir Ibn Katsir).
Ketika Abu Dzarr Al-Ghifari meminta nasihat kepada baginda Rasulullah, maka pesan paling pertama dan utama yang beliau sampaikan kepada sahabatnya itu adalah takwa. Rasulullah Saw bersabda: 

"Saya wasiatkan kepadamu, bertakwalah engkau kepada Allah karena takwa itu adalah pokok dari segala perkara." (Tanbihul Ghofilin, Abi Laits As-Samarkindi).

Menaati perintahnya, menjauhi larangannya. Terkesan seperti anak SD menghapal pelajaran agama islam untuk ulangan semester. Tapi saya tidak malu untuk memulai menghapal kembali definisi-definisi semacam ini. Sudah sejauh mana saya bertaqwa? Astaghfirullohaladzim. Bahkan perintah taqwa disebutkan jauh lebih banyak daripada perintah sholat di dalam Al-Quran! 

Menjadi manusia yang taat adalah menjadi manusia seutuhnya bagi saya. Sebab hakikat kita diciptakan adalah untuk menyembah sang pencipta, melalui ketakwaan tersebut. Perintah-perintah kepada manusia pun sudah jelas tertulis, mulai dari bersyahadat, sholat, berzakat, puasa, dan naik haji bila mampu, hingga perintah-perintah wajib lainnya seperti menutup aurat, mengulurkan hijab, menjaga pandangan, menjaga kemaluan, patuh pada suami, berbakti pada ibu bapakmu, dan yang lainnya. 

Lalu buat apa lagi kita mempertanyakan tujuan hidup? 
Jelas tujuannya adalah menjadi sebaik-baiknya insan yang bertakwa. Sami'na wa atho'na. 

Wassalammualaikum. 

Regards,
Annisa J.A (01.10am) 




16 May 2016

#RenunganSore: Sosmed dan Mudhorotnya.

Assalammualaikum wr wb. 

Alhamdulillah. 

Dalam kajian tadi siang di kantor, Ust. Khalid Basalamah menerangkan bahwa menurut kaidah fiqh, jika sesuatu lebih banyak mudhorotnya daripada manfaatnya, maka hal tsb tergolong haram. Contohnya? Rokok. Lalu saya inget seorang rekan (lupa siapa) pernah mengatakan via teks, "sosmed itu banyak mudhorotnya". 
Lalu apa berarti sosmed itu haram? 

Pikiran saya kembali ke tahun 2014 ketika memutuskan meninggalkan sosmed. Saat itu, saya menyadari bahwa hal-hal yang saya sampaikan melalui media memiliki tujuan untuk membuat orang lain terkesan. Saya ingin orang terkesan bahwa saya pernah makan steak salmon - sebagai contoh. Sehingga saya merasa ada sesuatu yang salah, sesuatu yang tidak sepatutnya saya lakukan. Saat itu, setiap detik dan menitnya saya mengutarakan sesuatu lewat sosmed yang tentu saja, hal itu gak penting bagi orang lain. 

Nowadays, sosmed digunakan untuk pamer (no offense). Yang berarti, people who use it will share their activities, which place they have dinner, how they spend their holiday, what they do with their partner, and even share barang2 apa saja yang mereka miliki (tak terkecuali saya juga melakukan itu). 
Dan salah satu kajian dari Ust. Khalid, salah satu ciri dari kesombongan adalah tabiat pamer. Lalu bagaimana cara kita menghindarinya? Share lah sesuatu yang kiranya bermanfaat buat orang lain. Apakah tempat liburan anda bermanfaat buat orang lain? Apakah barang terbaru anda penting buat diketahui orang lain? Well, Berkata baik atau diam. Share yang baik atau diam. 

Mungkin ada benar (atau baiknya) memang jika kita menahan diri. Tak terkecuali menahan diri untuk share hal semacam ini. Tapi sejauh yang saya pahami, dakwah itu sifatnya wajib dalam agama. Sampaikan walau hanya  1 ayat. Mungkin ada yg bisa berubah setelah membaca ini, mungkin juga ada yg  tersinggung. Apapun itu, tugas 1 orang muslim sudah saya lakukan. 

Alhamdulillah saya hidup di jaman dimana menyebarkan kebaikan tidak perlu pakai panah & pedang, sampai ke peperangan. 

Wallahualam. 

Mungkin benar, sosmed itu banyak mudhorotnya? 
*merenung* 

3 Mar 2016

Iman

/there is a room, it floats above the stars/

Ruangan itu gelap dan pekat. Tidak ada setitik cahayapun bagi mataku untuk melihat. Tidak ada suara yang memberikan petunjuk. Tapi aku tahu aku aman disana. Menunggu waktuku untuk bertemu dengan-Nya. Tidak ada satu detik pun waktu kuhabiskan percuma. Ku mengingat, mengeluh, berkesah, bercerita, dan tersenyum bahagia. Aku memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dengan hati penuh suka cita. Ruangan itu gelap dan pekat. Tapi tangan dan kaki ini tidak pernah terikat.

Mungkin begitulah iman. Dengan atau tanpa cahaya-Nya kau bisa belajar untuk tetap bahagia. Dengan atau tanpa cahaya-Nya kau bisa merasa merdeka di ruang hampa. Kau seperti dapat bercerita apa saja tanpa takut ada biang gossip yang akan mencela. Mungkin itulah namanya iman. Siang malam tanpa takut kau belajar untuk tertawa. Berserah diri hanya karena-Nya, sekalipun dalam ruang gelap gulita.

/With all the brave hearts, and open sky/

Song by: Sarah Brightman-Glosoli

9 Oct 2015

My Wedding Video - 21 December 2014

Hi everyone.
So I finally have the time to upload my wedding video trailer. Special thanks to Makna Foto  who have been able to make such joyful video of our wedding. We reaaallly love it!



1 Oct 2015

Menyapa Pagi di Awal Oktober

Selamat pagi. 
*inhale exhale*. Saya tengah duduk di atas matras yoga berwarna biru tua saat menulis ini, dan tentu saja dengan pemandangan halaman belakang rumah mertua yang sangat hijau serta beberapa kotak aquarium kaca milik suami yang tak kunjung diputuskan mau diletakkan dimana. Apapun itu, hari ini hati saya merasa bahagia plus plus. Bagaimana tidak, banyak sekali skenario dalam hidup yang mengejutkan saya alami: 

(Menjadi) hamil membuat saya benar-benar merasakan perjuangan seutuhnya seorang perempuan. Belum lagi perasaan berdebar-debar menjelang persalinan yang kerap saya alami. Untuk mengantisipasinya, saat cuti melahirkan saya dimulai saya rutin melakukan yoga. Dalam hitungan hari sampai minggu, bayi kecil ini akan segera keluar menyaksikan dunia. Saya pun tidak sabar menyaksikan mata nya terbuka dan mulutnya menjerit dengan kencang. 
---
Alhamdulillah, suami akhirnya mendapatkan pekerjaan baru. Setelah perjuangan yang cukup lamaaaa untuk bisa mendapatkannya. Apapun itu, sedikit rezeki dari Tuhan ini tampaknya tidak pantas diabaikan. Ini sebuah pencapaian besar. 
---
Kuliah saya perlahan lahan saya mulai kembali setelah terbengkalai selama 1 tahun. Jujur saja, pilihan untuk menunda studi di tengah jalan merupakan keputusan terberat. Tapi saat itu saya mendapatkan pekerjaan yang sangat baik dan momentum rencana untuk menikah kala itu membuat saya mengambil resiko untuk menjalani karir terlebih dahulu. Passion saya tinggalkan, pundi-pundi tabungan saya kumpulkan. orang bilang initinya mau cari modal untuk menikah. Tapi sekarang saya mulai menyusun kembali jalan tersebut, jalan menuju toga bergaris dua, walau entah kapan saya bisa memakainya. 
---

Dari semua kejutan itu, saya semakin percaya pada akhirnya bahwa skenario hidup memang penuh dengan misteri. Saya tidak pernah menyangka saya akan duduk di sini, pada detik ini. Kalau sesuai dengan angan-angan, semestinya saat ini saya sedang duduk manis di meja kerja, (mungkin) dengan uang yang tidak seberapa, dan selalu saja habis untuk berfoya-foya. Atau mungkin saya sedang melancong sendiri ke Papua -- dengan sedikit tabungan yang tersisa. Tapi ternyata saya harus duduk manis diam di rumah, menjaga anak bayi dalam kandungan, berlatih pernafasan untuk proses melahirkan, dan meminum teh hangat di sore hari untuk relaksasi. Ternyata saya harus tidur bersama pria yang kerap memanjakan dengan usapan lembut setiap kali saya merasa sakit pinggang, dan dari minggu ke minggu area bermain saya tidak jauh-jauh dari Rumah Sakit Bersalin atau mall untuk sekedar mencari hiburan. 

Alhamdulilah. Apa lagi yang bisa di bawakan bulan Oktober untuk saya? 



8 Sep 2015

34 Weeks of Pregnancy.

Pregnancy monitoring application on my smartphone has shown that I am entering my 35 weeks of pregnancy. 2 more weeks to go, I will enter the preparedness stage, the sufficient time for my baby to see the world!. I limit myself in knowing the delivering process, moreover watching delivering videos over the internet. A Big No. I read, read, and read, to make myself ready in facing the process. I am fully aware that the delivering process is started with a regular contractions - which pains are mostly unbearable. I imagine that I will be going through the long hours of regular contractions and preparing what I will be doing during those hard times. Subhanallah, Alhamdulillah, Lailahailallah, Allahu Akbar. Preparation is a must, whether I will consciously remember it during the delivering process or not, but it is better to know how you gonna respond on that matter.



As a working mommy-to-be, it is very hard to get through the pregnancy in a smooth way. Nothing is smooth, true but I was expecting that I could have more quality time with my unborn baby. All I know is during the last 8 months, I was busy working, spending only a few times with my baby, and I don't want to regret the passing moments which I can not hold back. The near future is very challenging. As the last year student, worker, and a mother, I can only count on Allah's blessings. Supports and prayers come from all of my families and friends, motivate me to pursue my destiny. I can imagine myself standing in the middle of stream, heading to too many directions, swimming and exhausting. But I know I will always can see the brightest sky because there is always one man standing behind me whenever I am dragged back. Standing right in front of me whenever I am lost. Standing beside me whenever I am tired. And that person relentlessly giving his shoulders anytime, anywhere for me.



I almost cry when I write this and remember the true kindness and gentleness from a man who - Alhamdulillah - becoming my lifetime partner. He who never complains. He who never says no to me. He who always gives the warmest hug. He who always smiles. He who always, and will always love me and adore me even when I am on my darkest side :)

Inni Uhibbuka Fillah, B.
May Allah give us enough time to always fall in love with each other, every day, to reach His-Jannah, to be met and happy in the immortal life afterward.

Jakarta, 08 September 2015
to my beloved Battani Ilman,
Friend of mine, father of my child, love of my life.






Jihan.


21 Jul 2015

Ied Fitri 2015



My first ramadhan and ied fitri with a husband. Taqobbalallahu minna wa minkum. May Allah grant us with forgiveness and purify our hearts. May all the hatred and bad memories being cleansed and we come out as a whole new holy human beings. Amin. 

Mohon maaf atas kesalahan kami, ya. 

Annisa, Battani & Cabi (calon bayi). 

3 Jun 2015

20 Weeks Pregnancy

Assalammualaikum Wr. Wb.

Entering my 20 weeks of pregnancy, I would like to share several exciting and amazing things happened. But first of all, I want to quote my father in law saying about pregnancy; Proses penciptaan manusia itu adalah proses yang menakjubkan. Dalam Al Quran banyak sekali ayat yang menjelaskan mengenai penciptaan manusia. Coba belajar, pahami. 


Week 5 : Awal kehamilan saya diketahui saat berusia 5 minggu. Saat itu saya sudah telat menstruasi selama 2 minggu. Setelah meyakinkan diri, akhirnya saya memutuskan membeli testpack dan mencobanya. Pertama kali saya coba alat tes kehamilan itu di toilet kantor, tanda langsung positif 2 garis. Jelas. Terang. Saya foto dan saya kirimkan ke suami "It should be saying positive". Saya deg-degan, membawa benih manusia di dalam perut saya rasa bebannya luar biasa. Tidak bisa dikata-kata.


Week 8 : Kata orang, nikmati saja segala susahnya kehamilan pada trimester pertama. Saya malah nafsu makan, walaupun sering merasa kembung dan masuk angin. Mual hanya sore hari ketika pulang kantor, mungkin karena jalanan macet membuat saya rentan lebih mabuk. Tapi kalau urusan muntah-muntah sih Alhamdulillahirobbilalamin, bisa dihitung dengan jari. Selebihnya saya jalani biasa saja.

Week 14: Memasuki saat trimester kedua. Perut saya sudah menonjol sedikit di bagian bawah, tapi tetap saja tidak terlihat. Seringkali tukang ojek kaget begitu saya bilang sedang hamil. Denyut-denyut jantung mulai terasa (eh ini di minggu ke berapa ya tepatnya saya lupa). Rasanyaa... kaya ada handphone yang bergetar di dalam perut dalam kondisi vibrate. Lalu ngilu. Lalu hilang. Lalu saya geli sendiri karena detak jantung baby sangat cepat. Pemeriksaan USG dilakukan rutin, mengetahui perkembangannya, melihat jantungnya yang berdenyut, benar-benar luar biasa. Sekali lagi saya ingat-ingat betul kata bapak "Penciptaan manusia itu menakjubkan". 

Infeksi THT
Oh! saya sempat harus bed rest 3 hari di rumah karena infeksi THT. Pada minggu-minggu kehamilan ini saya sempat flu berat dan beberapa kali mimisan dari hidung yang cukup banyak. Buat saya yang tidak punya riwayat nose bleeding seperti itu, tentu saja bikin parno sendiri. Darah keluar banyak dari hidung, sedikit dari telinga, tapi selebihnya... panas. Badan rasanya panas walaupun demam hanya terjadi 1 malam.



Week 18: Perut masih saja begini. Sejak menikah sampai tahapan ini berat badan naik 3 kilogram lebih kurang. Entah masih terbilang normal atau kurang, saya sih syukuri saja apa yang ada... hidup adalah anugrah (Eh, ini lagu siapa ya?). Kontrol dokter yang awalnya 2 minggu sekali sekarang jadi jarang, sebulan sekali pun dirasa cukup. Lalu si perut ini, yang semakin hari semakin keras rasanya membuat seluruh pinggang hingga tulang ekor rasanya sakit sekali kalau bangun tidur. Yah, susah-susah happy deh. Membayangkan ternyata berbadan dua tidaklah mudah. Tidak pernah mudah.


Duh kalau begini jadi ingat ibu. Ingin rasanya bersujud dan mencium kakinya. 

Week 20: Jenis kelamin baby bisa diketahui, tapi suami memutuskan untuk tidak mengetahuinya sampai saat menjelang melahirkan. Sejauh ini sih kami berdua sudah mulai mempersiapkan nama untuk laki-laki dan perempuan. Kalau ditanya harapannya mau jenis kelamin apa, saya pribadi benar-benar tidak ada! hebat ya, padahal dulu ingin sekali anak laki-laki. Sekarang, apa saja yang penting bisa menjadi anak yang soleh/ solehah kelak.

Oh ya, selama kehamilan saya selalu mendoktrin diri sendiri untuk banyak berdoa. Ingin jadi seperti apa anak kita kelak. Terus terang, mempunyai kebebasan (baca: tanggung jawab) macam ini menjadi orang tua ternyata dilematis sekali. Mungkin saya dan suami punya hak untuk memiliki harapan akan bagaimana anak kita kelak tumbuh dan berkembang. Tapi doa harus spesifik, toh pada akhirnya anak yang dalam perut saya ini bisa jadi apapun karena Allah.

Mozart is good for unborn baby
Katanya musik klasik baik untuk perkembangan otak bayi. Tapi setelah berdiskusi panjang lebar dengan seorang teman yang juga sedang hamil 1 bulan lebih tua dari saya, akhirnya saya sepakat untuk tidak menggunakan metode ini, namun menggantinya dengan metode lain. 
Walaupun... kadang suami masih suka setel musik Reggae atau lagunya Red Hot Chili Pepper :D 

Minggu-minggu ini badan saya mudah cepat lelah. Rasanya kerja seharian di kantor saja bikin saya lemas. Awalnya masih kuat naik ojek untuk pulang, lama-lama saya pakai taksi. Lalu saya memtuskan bawa mobil sendiri dan ini jauuuhhh menghemat energi. Dan pengeluaran juga tentunya. Tapi beneran, berhadapan dengan knalpot kopaja rasanya sedih banget. Saya aja capek dan tidak nyaman, gimana si baby dalam perut ya? Lalu kalau sudah sampai rumah saya hanya bisa menyalakan AC, dan tidur terlentang di bawah semburan udara dinginnya. 

Sekian cerita yang-ga-singkat-singkat-amat mengenai kehamilan saya. Tidak terlalu informatif dan lebih banyak curhatnya. Hehe.

Wassalammualaikum Wr. Wb.