Aku akan selalu mengingat disaat kita duduk di coffee shop itu. Disaat gundah meyelimuti hati, dan kamu duduk menemani. Berbicara tak henti. Tentang realitas dan mimpi. Tentang perencanaan hidup yang harus diolah kembali. Tentang kesenangan, tentang petualangan, tentang cita-cita dan masa depan. Berbicara tak henti. Maaf, maafkan karena aku selalu berceloteh dengan semangatnya tentang aku. Tentang kamu. Tentang kita. Maafkan aku, kalau aku selalu membuatmu risau dengan imajinasi yang berantakan dan tak terangkum. Baiklah, setidaknya aku memberitahumu tentang harapan akan kita. Semoga kamu bisa membantu aku merapihkan ke dalam jalurnya. Hanya agar tidak berantakan.
Sekali lagi, aku akan selalu mengingat saat kita duduk di coffee shop itu. Saat gundah menyelimuti hati. Dan aku bersandar pada sorot matamu. Sorot mata yang menyegarkan. Sebentar, aku akan merekam saat-saat ini. Saat mata kita bertatapan. Tanpa suara. Biarkan aku menikmati detik ini. Saat aku mengagumi matamu. Detik saat aku tahu bahwa aku cinta. Aku cinta- kamu.
Lucunya yang menjadi saksi saat itu hanya lilin dan dua gelas hot chocolate. Aku hazelnut, kamu original. Minuman itu memang menyegarkan. Sangat manis terasa. Bodohnya mungkin aku tidak bisa menikmati. Aku selalu mencoba untuk menegak habis minuman itu. Terbuai oleh rasa manis. Tapi tidak malam itu. Aku membiarkan hot chocolate mengisi penuh gelasku, karena sesuatu yang lebih manis akan aku dapatkan. Biarkan benda mati jadi saksi, bahwa kita pernah mengucap cinta bersama. Berdua.
Kamu memintaku. Mengucapkannya dengan sangat cepat. Tolong, ulangi sekali lagi. Aku memaksamu untuk mengulangi dengan seksama kata-kata itu. Mantra ajaib yang sanggup membuatku menitikkan air mata. Aku mendengarnya dengan jelas walau tatapan matamu sangat mengganggu , dan genggaman tanganmu membuatku lemas.
“ .........................................."
Tolong ulangi sekali lagi. Tapi kamu menolak, hanya karena ucapan kedua mungkin sudah tidak berarti. Baiklah, aku sudah mendengarnya. Kamu pernah mengucapnya. Aku tidak memaksa lagi. Walau benda mati yang jadi saksi.
andriyanto, aku bahagia.